Indicolite
08/04/2023
Mercusuar
"Kenapa kamu pergi dari aku, kamu udah ngga sayang lagi sama aku? " Fasha menguraikan pelukan itu.
"Kata siapa Vir, justru aku tuh sayang banget sama kamu. Cuma tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama. " Ucap Nara dengan senyum sedih di wajahnya.
"Yaudah kalau gitu bawa aku juga Ra, biar kamu ngga kesepian dan kita bisa sama-sama. Please! " Ditatapnya Nara dengan penuh harap.
"Stt, gaboleh ngomong gitu vir nanti Tuhan denger. "
"Ga papa, kan memang itu yang aku mau. "
Fasha meraih tangan kanan Nara dan menggenggamnya dengan erat.
"Vir dengerin aku, stop nyalahin diri kamu dan keadaan karena aku. Coba belajar buat nerima ini semua karena memang ini yang terbaik buat aku, buat kamu juga. " Nara menatapnya dengan binar berkaca, menatap dalam berharap tergerak hatinya.
Fasha terdiam, mendengarkan ucapan Nara dengan serius.
"Yah... masih banyak hal hal indah yang belum kamu lewatin. Masih ada mama yang harus kamu banggain dan masih ada seseorang yang harus kamu jaga sama seperti kamu jagain aku dulu. "
Fasha masih menelaah kalimat terakhir yang Nara ucapkan. Apa maksud dia berkata seperti itu.
"Siapa? "
"Nanti kamu pasti tau sendiri kok. Mau kan ngelakuin itu seenggaknya demi aku Vir, soalnya aku sedih liat kamu hidup seperti itu terus-terusan. "
Nara memegang wajah Vir dengan tangannya, mencoba berbicara dari hati ke hati.
"Kalau itu mau kamu aku akan coba. "
Jawaban yang membuat Nara meneteskan air mata, inilah keinginannya pada Fasha.
Tak tega Fasha lantas menariknya ke dalam pelukan, ia mengerti betul bagaimana perasaan gadis ini.
Keduanya benar-benar larut dalam dekapan hingga tanpa sadar tubuh mungil itu mulai memudar. Menyisakan manik manik cahaya yang dipeluknya.
"Ra...aku belum puas meluk kamu jangan pergi dulu, sebentarrr lagi Ra." Fasha membuka matanya, mendapati pelukan nya yang kosong.
"NARA..."
Teriaknya histeris ketika itu juga, tak disangka lagi-lagi Nara pergi tanpa berpamitan padanya.
Fasha membuka matanya lebar-lebar, melihat langit langit kamar dengan tatapan kosong.
Menyeka sudut matanya yang meneteskan air entah kenapa.
Meski sulit tapi Fasha tak menyesalinya, karena hanya di sini yang bisa membuat dia dan Nara berjumpa.
Perjumpaan yang teramat sangat singkat itu membuat dirinya sadar bahwa sikapnya selama ini adalah kesalahan, kesalahan yang terjadi ketika seseorang benar-benar frustasi akan Tuhan takdir dan keadaan.