Sore itu, Seorang perempuan terlihat duduk melamun seorang diri didalam kamarnya. ia duduk dengan memeluk lutut di dekat jendela yang ada di dalam kamar tersebut.

perempuan itu tak lain ialah Kikan. seorang perempuan cantik yang baru saja menginjak usia 23 tahun. Kala itu raut wajah Kikan terlihat nampak bingung. sebab, ia sedang memikirkan keinginan ibunya yang mendesak dirinya agar segera menikah. bukankah ini sebuah keinginaan yang sulit di wujudkan oleh Kikan ? .

Bagaimana mau menikah? sedangkan saat ini tidak ada satupun seorang laki - laki yang mendekatinya! mungkin karna kikan sangatlah berbeda bukan seperti perempuan pada umumnya yang mampu beradaptasi dengan lawan jenisnya.

dia tidak mudah bergaul dan hanya nyaman berteman dengan kelompok kecil saja. Kikan sangatlah pendiam. namun, itu semua berlaku jika di hadapan orang asing maupun orang yang baru saja ia kenal. Lamunan Kikan tiba - tiba membuyar ketika suara ketukan pintu memecahkan keheningan di dalam kamarnya.

"Kikan, kamu sedang apa di dalam, Nak. di luar ada tamu. tolong buatkan minum," terdengar suara teriakan seorang wanita dari luar kamar Kikan. Suara tersebut tak lain ialah suara Ibu Kikan yang bernama Ny. Merry.

Kikan pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu kamar tersebut. seketika itu Kikan mengiyakan perintah Ibunya. entahlah, siapa yang ber-tamu di sore hari seperti ini. Kikan berlalu menuju ke dapur dan mulai membuatkan teh hijau hangat untuk tamu yang di maksud oleh ibunya tadi. Seusai itu, Kikan keluar dari dapur dan menuju ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang tertata cangkir berwarna putih berisi teh hijau di atasnya.

Di ruang tamu, Kikan melihat Ibunya sedang duduk dengan seorang wanita paruh baya yang tak asing di kedua matanya. wanita itu menepiskan senyumnya saat melihat Kikan. Kikan juga membalas senyuman wanita itu. Wanita itu tak lain ialah Ny. Lilis, yang tak lain tetangga Kikan waktu di skotlandia.

Ny. Lilis ialah seorang warga negara indonesia yang menikah dengan orang London yang bernama Tn. Robert namun sayangnya suami Lilis meninggal beberapa tahun yang lalu di karenakan sakit. Lilis memiliki dua orang anak laki - laki dan salah satu anak dari Lilis yang bernama Alka ialah teman masa kecil Kikan.

"Silahkan Tante," kata Kikan dengan menyodorkan cangkir berisi teh tersebut di atas meja tepat di depan wanita itu.

"Kamu Kikan?" tanya Lilis. Kikan mengiyakan dan menganggukan kepalanya.

"Wah, sekarang sudah besar kamu ya, Nak. semakin cantik," puji Lilis. Kikan hanya membalas pujian itu dengan tersenyum malu.

"Nak, apa kamu ingat? ini Tante Lilis Mamanya Alka teman kecil kamu waktu kita dulu masih tinggal di Skotlandia?" tanya Ibu.

"Iya Bu, Kikan masih ingat dengan Tante Lilis," ucap Kikan.

"Kikan, kemarilah duduk di samping Tante," pinta Lilis. Kikan mengiyakan dan mendudukan tubuhnya disamping wanita itu.

"Apa kamu masih kuliah atau sudah bekerja?" tanya Tante Lilis seraya memegang bahu Kikan.

"Kikan kuliah sambil bekerja part time Tante, tetapi kuliah Kikan hampir selesai, ini hanya menunggu sidang skripsi saja," jawab Kikan. rasanya ia begitu canggung.

"Apa kamu tidak lelah kuliah sambil bekerja?" tanya Lilis.

"Tidak Tante, kalau saya tidak bekerja kasihan Ibu saya banting tulang sendirian," jawab Kikan.

"Anak pintar. kamu yang berbakti ya, Nak. sama orang tua," tutur Lilis, tangannya bergerak dan memberi sentuhan halus membelai kepala perempuan yang saat ini duduk persis di sampingnya.

Ibu Kikan menatap Kikan dengan begitu haru. karna semenjak 4 tahun yang lalu ketika Ayah Kikan meninggal Kikan terpaksa membantu Ibunya banting tulang kuliah sambil bekerja agar bisa melanjutkan hidup bersama Ibunya.

Kikan ialah anak semata wayang dari Ny. Merry dan Tn. George. Masa kecil Kikan tinggal di Skotlandia. jarang sekali ada yang mau berteman dengan Kikan. karna dulu Kikan sangatlah tertutup dan memiliki wajah yang kurang menarik diantara teman-teman lainnya

dan Kikan selalu saja jadi bahan ejekan dan olok - olokan oleh semua teman – temannya,

terlebih lagi, keluarga Kikan tergolong sangatlah sederhana.

Waktu Kikan berumur 8 tahun ia dan keluarganya harus pindah ke Irlandia tepatnya di kota Dublin. Namun, lambat laun, Kikan ternyata tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik dan pintar, namun. ia masih tetap sangat pendiam dan tertutup jika di hadapan orang asing atau orang yang baru saja ia kenal. jadi tak heran, banyak orang yang melihat Kikan terkesan angkuh. padahal sebenarnya tidak demikian.

dan tepat 4 tahun yang lalu, Ayah kikan mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia dan saat itu juga, kehidupan Kikan berubah, ia harus banting tulang membantu sang Ibu untuk melanjutkan hidup dan juga membiayai kuliahnya.

"Oh iya, Kikan. Tante ini baru beberapa hari pindah ke Irlandia, ikut anak – anak Tante di sini. Karna, anak – anak tante sudah lama tinggal di Irlandia. dan tadi, kebetulan sekali waktu tante pergi ke supermarket, Tante bertemu dengan Ibumu. jadi Tante sekalian mampir ke rumahmu," ucap Lilis dengan menepiskan senyumnya.

"Iya, Nak. untung Tante Lilis terlebih dulu menyapa Ibu. jika tidak, ibu tidak akan mengenali Tante Lilis. karna sudah 15 tahun tidak bertemu dan Tante Lilis sangat berubah sekali. sekarang semakin cantik dan awet muda," saut Ibu seraya tak henti - hentinya memuji Lilis hingga membuat perempuan paru baya itu tersipu malu.

"Iya Nyonya Merry, kita sudah lama juga ya tidak bertemu," ucap Lilis. Ibu Kikan pun mengiyakannya.

Kini, ketiga perempuan tersebut sedang asyik saling berbincang satu sama lain hingga melupakan waktu yang sudah hampir menjelang malam. Bahkan, sang senja terlihat membentang diluaran sana. Seketika itu, Lilis mengakhiri obrolan ringan dengan Ibu Merry dan juga Kikan, ia berpamitan kepada Ibu dan anak tersebut.

"Nyonya Merry, Kikan ... Tante pamit pulang dulu, ya. Karna, sudah hampir malam, maaf mengganggu waktu kalian berdua. jika ada waktu silahkan main ke rumah saya ya Nyonya, Kikan," pinta Lilis.

"Iya, Nyonya Lilis. Jika ada waktu senggang saya akan mengajak Kikan untuk bermain ke rumah Nyonya." ucap Ibu.

“Oh iya, Nyonya Lilis. jangan lupa mengabari kami melalui pesan singkat ya jika sudah sampai di rumah,” imbuh Ibu, karna tadi mereka berdua sempat bertukar nomer telepon.

"Baiklah, Nyonya Merry. nanti saya akan mengabari jika sudah sampai rumah," saut Lilis dengan penuh semangat.

"Terimakasih banyak ya, Tante Lilis. sudah mau berkunjung di gubuk kecil kami," ucap Kikan sembari menepiskan senyumannya yang setengah melingkar menghiasi wajah cantiknya tersebut.

"Sama - sama Kikan sayang," saut Tante Lilis, ia pun berlalu keluar dari rumah Kikan dan menaiki mobil miliknya. Lilis sejenak membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya kepada Kikan dan ibunya. setelah mobil yang di tumpangi oleh Lilis sudah tak terlihat dari pandangan mata, Kikan mengajak Ibunya untuk masuk kembali ke dalam rumah.

Read Next Episode
Semua komik full color dan gratis!Gratis download aplikasi, baca episode kelanjutannya!
Semua komik full color dan gratis!
Gratis Download Aplikasi dan Nikmati Akses Sepenuhnya